PENYULUH KEHUTANAN

Dengan misi Hutan lestari dan Masyarakat sejahtera dengan pemberdayaan Kelompok Tani hutan

Senin, 26 April 2021

 

POTENSI DAN MANFAAT TANAMAN BAMBU

Tanaman Bambu yang seperti kita ketahui saat ini, selalu diidentikan dengan negara Cina atau negara Asia Timur lainnya dimana tanaman ini banyak tumbuh berkembang biak di dataran negara-negara tersebut, padahal tanaman bambu tidak hanya tumbuh pada wilayah tersebut saja melainkan hampir diseluruh belahan dunia termasuk negara Indonesia. Tanaman Bambu adalah tanaman berbunga menahun hijau abadi (Angiosperma-Perennial-Evergreen Plant) yang berasal dari Famili Poaceae. Tanaman ini diklasifikasikan ke dalam lebih 10 dari genus dari 1450 spesies yang ada (Gratani dan Loretta, 2008). Berbagai macam spesies dari tanaman kosmopolit ini dapat ditemukan di berbagai iklim yang mencakup iklim dingin pegunungan hingga iklim tropis panas. Tanamanbambudapatditemui pada sepanjang Asia Timur dari50o Lintang Utaradi Sakhalin Rusia menuju ke selatan hingga ke Australia dan terakhi rmenuju ke Barat (India) hingga ke Himalaya (Bystriakova, 2003)

Tanaman Bambu adalah salah satu dari tanaman yang memiliki laju pertanaman dan daur hidup tercepat di dunia. Bambu terkategorikan kedalam anggot akeluarga rumput-rumputan (FamiliPoaceae) dan termasuk dalam hasil hutan bukan kayu. Sulastiningsih dkk. (2005) mengungkapkan bahwa daur hidup bambu ialah sekitar 3-4 tahun sampai ia siap dipanen. disokong oleh sistem rizhoma-dependen unik yang  memiliki kemampuan untuk tumbuh kurang lebih sekitar 60 cm perhari, juga tergantung pada kondisi tanah dan juga klimatologi dimana ia tumbuh (David, 1984). Indonesia saat ini menempati urutan ketiga negara penghasil bambu terbesar di dunia setelah negara Cina dan Thailand (Hidayat, 2012). Data padatahun 2000,luas total lahan bambu di Indonesia adalah sekitar 2.104.000 ha yang terdiri dari 690.000 ha luas tanaman bambu di dalam kawasan hutan dan 1.414.000 ha luas tanaman bambu di luar kawasan hutan (Inbar, 2005 dalam Arsad E, 2014). Dengan segala potensi yang dimiliki oleh bambu, hal tersebut meniscayakan maksimalisasi pendayagunaan potensi tanaman ini sebagai material yang dapat memberikan solusi terhadap inadekuasi hasil produksi kayu

Berikut ialah potensi pemanfaatan tanaman bambu baik dalam material bangunan maupun pemanfaatan dalam bentuk yang lain :

1.      Pemanfaatan Bambu sebagai Bahan Material Bangunan Ramah Lingkungan

Pemanfaatan bahan material bangunan yang tidak terbarukan yang pada umumnya terbuat dari besi, beton, dan logam ternyata menjadi kontributor terbesar kedua pada isu pemanasan global. Hal ini dikarenakan material-material tersebut membutuhkan tenaga besar dan juga upaya penambangan yang jika tidak dilakukan sesuai dengan prosedur yang baik maka dapat memperparah kondisi lingkungan yang sudah rusak. Diperlukan bahan subtitusi yang dapat menjawab problema demand dan supply material bangunan yang kualitasnya sama dan ramah lingkungan.

Efa Suriani (2017) dalam jurnalnya yang berjudul “BambuSebagaiAlternatifPenerapan Material Ekologis: Potensi dan Tantangannya” mengungkapkan bahwasannya bambu dengan struktur batangnya yang kuat, kondisi entropi yang rendah, dan potensi daur ulang yang tinggi dapat menjadi alternatif kayu pada material bangunan. Bambu juga membutuhkan energi yang lebih sedikit dalam proses produksinya, bambu mennghasilkan kadar karbondioksida lebih sedikit daripada beton dan besi pada satu siklus hidup bangunan.



2.      Alternatif Bahan Bakar Fossil : Biomassa Bambu

Pembuatan bahan bakar alternatif yang berupa wood pellet hasil dari limbah pengolahan bambu telah dibahas oleh Effendi Arsad (2015) dalam artikel ilmiahnya yang berjudul “Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Bambu”. Kandungan lignoselulosa dalam bambu memungkinkan ia untuk menjadi bio-fuel terbarukan untuk mengganti bahan bakar fosil yang saat ini harganya tidak cukup terjangkau dan ketersediaannya yang makin hari kian terbatas. Beberapapenelitiantentangwood pellet telahdilakukan, menurut Wang dan Yan, (2005), pemanfaatanwood pellet mampumengurangiemisi CO2 dan menghasilkanefisiensipanassebesar 80%.

3.      Material Dasar Pulp Kertas

Bambu yang berlimpah di Indonesia dapat digunakan sebagai bahan baku multi guna dan memiliki keunggulan tertentu. Diharapkan bamboo dapat menggantikan bahan baku konvensional, dalam hal ini kayu. Pada saat ini kayu mulai terbatas dan harganya relatif mahal, sedangkan bamboo merupakan salah satu keperluan serat pulp untuk kertas terus meningkat, hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Khusus di Indonesia yang berada di daerah tropis, tanaman bamboo merupakan salah satu pilihan bahan baku pulp dan kertas paling penting (Lybeenet al. 2006). Bambu mempunyai keunggulan jika digunakan sebagai bahan baku kertas, karena cepat pertumbuhan dan mudah diputihkan setelah diolah menjadi pulp menggunakan proses kraft karena tekstur bamboo sebagai tanaman monokoti llebih banyak jaringan parenkim, sehingga tidak sepadat kayu. Pattet al (2005), mengemukakan bahwa selain komponen kimia dan kondisi pengolahan, morfologi serat bahan berlignoselulosa juga merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pulp dan kertas, karena komposi sijaringan tanaman dalam sel yang beragam.


Salah satu pemanfaatan tanaman bambu di desa Alas Kembang Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan, yang mengolah bambu menjadi tusuk sate.



Rabu, 17 Maret 2021

 

PERHUTANAN SOSIAL



PENDAHULUAN

            Perhutanan Sosial adalah Sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya.

       Membangun Indonesia dari pinggiran, didefinisikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), salah satunya melalui program Perhutanan Sosial, sebuah program nasional yang bertujuan untuk melakukan pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi melalui tiga pilar, yaitu: lahan, kesempatan usaha dan sumberdaya manusia. Perhutanan Sosial juga menjadi benda legal untuk masyarakat disekitar kawasan hutan untuk mengelola kawasan hutan negara seluas 12,7 juta hektar. 

        Akses legal pengelolaan kawasan hutan ini, dibuat dalam lima skema pengelolaan, yaitu Skema Hutan Desa (HD) hutan negara yang hak pengelolaannya diberikan kepada lembaga desa untuk kesejahteraan desa. Hutan Kemasyarakatan (HKm), yaitu hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat. Hutan Tanaman Rakyat (HTR/IPHPS), adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalm rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan. Hutan Adat (HA), dimana hutan ini adalah hutan yang berada di dalam wilayah masyarakat hutan adat. Skema terakhir adalah Kemitraan Kehutanan, dimana adanya kerjasama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang Izin Usaha Pemanfaatan hutan, jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan atau pemegang izin usaha industri primer hasil hutan.

         Pelaku Perhutanan Sosial adalah kesatuan masyarakat secara sosial yang terdiri dari warga Negara Republik Indonesia, yang tinggal di kawasan hutan, atau di dalam kawasan hutan negara, yang keabsahannya dibuktikan lewat Kartu Tanda Penduduk, dan memiliki komunitas sosial berupa riwayat penggarapan kawasan hutan dan tergantung pada hutan, dan aktivitasnya dapat berpengaruh terhadap ekosistem hutan.

 

TUGAS PENYULUH KEHUTANAN DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL

          Untuk mendukung program perhutanan sosial tersebut agar aplikasi pelaksanaan lapangan tepat waktu, tepat sasaran, tepat kegiatan, tepat berdaya guna dan tepat berhasil guna, maka diperlukan peran seorang pendamping (penyuluh kehutanan) didalam kelompok tani hutan tersebut, baik di dalam kegiatan Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat maupun Kemitraan Kehutanan sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 Tentang Perhutanan Sosial 

          Peran tenaga penyuluh kehutanan sangatlah diperlukan, hal ini dikarenakan dalam penyelenggaraan penyuluhan tenaga penyuluh / pendamping memegang peranan yang sangat menentukan keberhasilan, ditangan seorang penyuluh / pendamping yang berkwalitas, penyelenggaraan penyuluhan dapat berjalan dengan baik dan berhasil. Peran penyuluh / pendamping kehutanan tidak hanya dibatasi pada kewajiban untuk menyampaikan inovasi dan mempengaruhi sasaran penyuluhan melalui metode dan teknik-teknik tertentu, akan tetapi sampai pada sasaran penyuluhan itu dengan kesadaran dan kemampuannnya menerapkan inovasi yang disampaikan, dan harus menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini, seorang penyuluh /pendamping kehutanan harus dapat menyampaikan inovasi dan kebijakan-kebijakan yang diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat sasaran penyuluhan dan menyampaikan umpan balik atau tanggapan masyarakat kepada pemerintah / lembaga penyuluhan yang bersangkutan.

Salah satu bentuk perhutanan sosial dengan memanfaatkan lokasi hutan negara untuk tempat pariwisata alam

Rabu, 17 Februari 2021

 PEMBUATAN BANGUNAN KONSERVASI



Sungai merupakan salah satu sumber daya  alam yang mempunyai potensi sangat besar untuk kehidupan manusia. Salah satu potensi yang ada adalah sebagai sumber air utama untuk kebutuhan hidup manusia.

Dam penahan adalah bendungan kecil yang lolos air dengan kontruksi bronjong batu atau crucuk kayu/bamboo yang dibuat pada alur jurang dengan tinggi maksimum 4m. Manfaat DAM Penahan adalah untuk mengendalikan endapan dan aliran air permukaan dari Daerah Tangkapan Air (Catchment Area) di bagian hulu serta meningkatkan permukaan air tanah di bagian hilirnya.

Aliran air pada awalnya menembus bronjong batu ini tetapi pada akhirnya diharapkan sedimentasi terjadi pada bagian atas bronjong yang akhirnya sedimen menutup bronjong ini. Dam pengendali merupakan bangunan lebih besar dan lebih kuat dari pada dam penahan. Umumnya dam pengendali dibangun dengan tanah dipadatkan atau berupa beton sehingga dapat mengendalikan banjir. Kalau dam penahan dibangun dengan kawat bronjong batu yang tembus air. Dam pengendali ini dapat berupa bendungan yang besar.

Kegiatan Peningkatan Peran serta masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Pembuatan Dam Penahan ) Kabupaten Bangkalan Tahun 2021 akan di laksanakan di kecamatan Kokop Konang dan Geger  oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur CDK Sumenep Wilayah Kerja Bangkalan

Dam penahan merupakan salah satu bentuk bangunan sipil teknis berupa dam kecil dibuat dari susunan batu yang diperkuat dengan bronjong kawat dengan fungsi utama sebagai penahan endapan lumpur akibat terjadinya erosi dimusim hujan. Tujuan pembuatan dam penahan untuk mengendalikan sedimentasi yang diakibatkan adanya erosi pada bagian tangkapan air sehingga dapat mencegah dan mengurangi pendangkalan pada bagian hilir serta memperluas lahan pertanian.

 

Persiapan

1)      Pemilihan calon lokasi

Pemilihan calon lokasi dilakukan dengan cara inventarisasi terhadap beberapa calon lokasi dam penahan ( DPn ) yang telah ditetapkan dalam Rencana Teknik Tahunan (RTT) yang telah disusun oleh Dinas yang menangani  bidang kehutanan, dengnan kriteria sebagai berikut :

a)      Lahan kritis dan potensi kritis

b)      Sedimentasi dan erosi tinggi

c)       Pengamanan sumber mata air

d)      Pengamanan bangunan vital

e)   Luas daerah tangkapan air (DTA)               10 – 30 ha

f)       Tinggi maksimal 4 meter

g)      Kemiringan alur  10 – 35 %

h)      Kemiringan lahan  10 – 35 %

Pemilihan lokasi serta pengukuran calon lokasi bangunan konservasi

2)      Orientasi lapangan

Calon lokasi yang terpilih  (memenuhi criteria) kemudian dilakukan orientasi lapangan  untuk menentukan jumlah volume ,biaya , letak serta ukuran bangunan dam penahan.

 

Pembuatan Dam Penahan (DPn)

a.       Persiapan

1)      Penyiapan Kelembagaan

a)      Pertemuan dengan masyarakat / kelompok dalam rangka sosialisasi.

b)      Pembentukan organisasi dan penyusunan program keja .

2)      Pengadaan Sarana dan Prasarana

Pengadaan sarana dan prasarana (sarpras) diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan habis pakai.

Pelaksanaan dilapangan antara lain :

a)      Pembuatan jalan masuk

b)      Pembuatan gubuk kerja/gubuk matrial  (bila diperlukan)

3)      Penataan areal kerja

a)      Pembersihan lapang

b)      Pengukuran kembali

c)       Pemasangan patok batas

d)      Pembuatan bending dan saluran pelimpah/spill way di tanah milik masyarakat,tidak ada ganti rugi.

Pembuatan profil bangunan konservasi

b.      Pembuatan

1)      Pemasangan/pembuatan profil bangunan

2)      Penggalian pondasi bangunan

3)      Penganyaman/pembuatan bronjong

4)      Pengisian bronjong

5)      Pengikatan bronjong

 

Pembuatan bronjong

Jumat, 22 Januari 2021

 BUDIDAYA LEBAH MADU




A.        Latar Belakang

1.       Budidaya lebah madu telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pada saat ini kegiatan perlebahan terlihat semakin meningkat dan telah mendapat banyak perhatian dari berbagai pihak.

2.       Usaha peningkatan dan pengembangan perlebahan di Indonesia didukung oleh berbagai potensi yaitu, antara lain :

a.       Tersedianya pakan lebah sepanjang tahun.

b.       Terdapatnya berbagai jenis lebah penghasil madu yaitu :

1.       Apis andreniformis

2.       Apis cerana

3.       Apis dorsata

4.       Apis florae

5.       Apis koschevnikovi

6.       Apis mellifera

c.        Tersedianya sumber daya manusia.

d.       Pasar yang masih terbuka.

3.       Manfaat budi daya lebah madu.

a.       Peningkatan pendapatan masyarakat dari hasil perlebahan : madu, tepungsari, royal jelly, propolis, lilin, racun lebah, dan lain-lain.

b.       Peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat.

c.        Peningkatan produksi pertanian, perkebunan dan kehutanan melalui penyerbukan (polinasi).

d.       Menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha.

4.          Dalam pengembangan kegiatan perlebahan pemerintah mengambil kebijaksanaan unatuk mengembangkan lebah unggul (Apis mellifera) disamping jenis-jenis lebah local (Apis cerana dan Apis dorsata).

  Hal ini berdasarkan atas pertimbangan  bahwa Apis mellifera mempunyai sifat-sifat unggul, antara lain :

a.         Produktivitas yang tinggi, produksi madu dapat mencapai 50 kg/koloni/tahun.

b.         Tidak suka hijrah.

c.          Teknik budidaya yang sudah dikuasai.



B.      Tujuan

Petunjuk praktis budi daya lebah madu unggul (Apis mellifera) disusun dengan tujuan menyebar luaskan pengetahuan teknik budi daya lebah madu dan merangsang minat masyarakat untuk berusaha di bidang perlebahan.

 

I.        BIOLOGI LEBAH

Kehidupan Koloni

Apis mellifera berasal dari Eropa, kemudian berkembang di Indonesia. Jenis ini mulai dibudidayakan tahun 1972 oleh Kwarnas Gerakan Pramuka.

Secara umum ukuran tubuh lebah jenis Apis mellifera lebih besar dibandingkan dengan Apis cerana. Seperti halnya lebah jenis lainnya, lebah Apis mellifera hidup bergerombol/berkoloni. Dalam satu koloni terdapat seekor lebah ratu, puluhan sampai ratusan  lebah jantan dan ribuan sampai puluhan ribu ekor lebah pekerja.

1.       Lebah Ratu

·         Berkelamin betina sempurna.

·         Bentuk badan lebih besar dari lebah pekerja maupun lebah jantan.

·         Tugasnya bertelur selama hidupnya, dalam keadaan sehat mampu bertelur sampai 1.500 butir/hari.

2.       Lebah Jantan

·         Berkelamin Jantan sempurna.

·         Ukuran badan lebih besar dari lebah pekerja tetapi lebih kecil dari lebah ratu.

·         Tugasnya mengawini ratu.

3.       Lebah Pekerja

·         Berkelamin betina tidak sempurna.

·         Ukuran badan paling kecil.

·         Tugasnya member makan lebah ratu ratu dan larva, membuat sarang, mencari nectar dan tepung sari, memproses dan menyimpan madu serta mencari air.

 

 

II.     TEKNIK BUDIDAYA

A.      Penentuan Lokasi Budidaya Lebah

Tersedia pakan lebah yang cukup, bahan makanan lebah madu  adalah nectar dan tepungsari. Dalam menentukan jenis tanaman pakan lebah perlu diketahui :

·         Masa pembungaan tanaman.

·         Bentuk mahkota bunga.

·         Jenis-jenis tanaman pakan lebah antara lain kaliandra, lamtoro gung, sengon, puspa, jenis tanaman buah-buahan (apel, mangga, rambutan, leci, apokat, anggur, jeruk), tanaman industry (kapuk randu, kelapa, kopi, kapas, kelapa sawit, bunga matahari, karet, jagung), jeis tanaman sayuran ( lombik, ketimun, kacang polong, wortel) dan lain-lain.

·         Suhu udara ± 20-34oC, kelembaban 70-80%.

·         Tersedia air bersih sepanjang tahun.

·         Jauh dari sumber kebisingan, baud an asap yang menyengat.

B.      Peralatan

Peralatan budi daya lebah madu unggul (Apis mellifera) terdiri dari :

1.       Pengasap

2.       Sarung tangan

3.       Pelindung muka (topeng)

4.       Sikat lebah

5.       Pisau

6.       Kotak lebah

7.       Esktraktor

8.       Penyaring madu

C.      Pengadaan Bibit Lebah

·         Biasanya diperoleh dari lebah paket atau dari pemecahan koloni.

·         Pemecahan koloni dilakukan seperti pemecahan koloni Apis cerana.

·         Untuk memindahkan koloni dari lebah paket kedalam kotak lebah dilakukan secara perlahan-lahan. Setelah seluruh lebah masuk ke dalam kotak, rapatkan bingkai siaran sarang, masukkan alat pemberi makanan berserta sirup, kemudian kotak ditutup, koloni lebah dibiarkan sehari semalam, baru keesokan harinya pintu kotak dibuka untuk memberi kesempatan  lebah mencari makan. Untuk mendapatkan sumber pakan lebah dilakukan penggembalaan dengan cara membawa kotak lebah ke tempat-tempat yang banayak sumber makanan.

D.      Pemeliharaan dan Perawatan

·         Pemeriksaan koloni cukup dilakukan 7-10 hari sekali.

·         Diadakan pemindahan sisiran sarang untuk meningkatkan daya kerja koloni secara maksimal baik sisiran dalam kotak atau antar kotak.

·         Pengaturan koloni  dilakukan dengan menggabngkan 2 buah koloni  yang kuat dengan koloni yang lemah.

·         Pencegahan perampokan dan hijrah dengan jalan  menghindari koloni dari hama dan penyakit, kurang pakan, cuaca yang kurang menguntungkan, kebisingan dan koloni tidak mempunyai ratu.

 

 

III.      PEMUNGUTAN HASIL

 

1.       Untuk pengambilan madu sebaiknya dilaksanakan pada pagi hari atau sore hari, sisiran madu dipilih dari sisiran yang penuh madu atau sekurang-kurangnya 2/3 sisiran telah terisi madu yang sudah tertutup lapisan lilin. Bingkai sisiran dibersihkan lebahnya dengan sikat lebah, kemudian bingkai dimasukan dalam ekstraktor. Madu yang telah terkumpul disaring kemudian dimasukkan kedalam botol-botol.

2.       Pengambilan royal jelly dilakukan dengan menggunakan bingkai sisiran panenan royal jelly (queen comb) pada alat tersebut terdapat sederetan  mangkuk-mangkuk calon ratu yang diisi dengan larva pekerja, selanjutnya loeh lebah pekerja diisi dengan royal jelly, setelah semuanya terisi maka royal jelly dapat segera diambil.

3.       Pengambilan tepung sari dengan menggunakan perangkap tepung sari( pollen trap) yang dipasang didepan pintu masuk kotak lebah. Lebah-lebah yang membawa tepungsari akan merontokkan tepungsarinya, kemudian tepungsari ditampung dalam tempat penampungan.

4.       Pengambilan malam dilakukan setelah sarang lebah tidak berisi madu, tepung sari, telur, larva kemudian malam di press dengan alat penekan. Untuk mendapatkan malam yang baik, setelah di press, dicuci selanjutnya malam dicairkan sengan suhu pemanasan 63-65C setelah mencair disaring dengan kawat kasa.

 

IV.    PENANGANAN HASIL

Penyimpanan madu sesudah panen, agar madu dapat lebih tahan lama dalam penyimpanan maka perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:

1.       Bejana penyimpanan madu terbuat dari bahan yang tidak mudah bereaksi misalnya gelas atau plastik.

2.       Suhu penyimpanan maksimal 37o C.

3.       Kadar air didalam madu paling tinggi 20%.

4.       Penyimpanan madu dilakukan dalam bejana yang tertutup rapat agar tidak terjadi kontaminasi dengan udara luar.